Headlines News :
Home » , » Model Sekolah Katolik

Model Sekolah Katolik

Written By SMA Bintang Laut on Senin, 22 Juli 2013 | 11.08

Sebuah tulisan dari Yohanes Muryadi
tentang Model Sekolah Katolik di Indonesia
(telah dimuat oleh Majalah HIDUP nomor 27 tahun ke-67, 7 Juli 2013 pada hal. 14)


Siswa-siswi SMAS Katolik Bintang Laut
Teluk Dalam, Nias Selatan (sgl)
Di antara karya Kerasulan Gereja, pendidikan dinilai sebagai karua yang sangat efektif. Pastor Fransiscus van Lith SJ memulai karya misinya dengan mendirikan sekolah di Muntilan. Dari situ lahirlah tokoh-tokoh nasional yang diakui kekuatan wibawanya bagi bangsa Indonesia. Mereka antara lain Mgr. Albertus Soegiapranata SJ dan I.J. Kasimo.

Sekolah Katolik tidak hanya didirikan di kota-kota tetapi juga di pedesaan. Bahkan di pedalaman yang belum tersentuh perhatian pemerintah, Sekolah Katolik selalu menjadi pionir. Sekolah-sekolah itu hanya dipercaya karena kedisiplinan dan mutunya. Murid-muridnya tidak hanya mereka yang beragama Katolk, tetapi juga dari semua lapisan masyarakat dan aneka agama. Banyak anak Muslim yang bersekolah di Sekolah Katolik. Setelah lulus mereka menjadi pengusaha, pejabat, politisi, negarawan dan lain-lain. Mereka berjuang demi kesejahteraan bangsa Indonesia.

Karena Sekolah Katolik termasuk pendidikan berciri khusus, semua anak hanya mendapatkan pelajaran Agama Katolik. Agar tidak menjadi masalah, maka saat murid non-katolik masuk ke sekolah itu, mereka dan orang tuanya dengan suka rela menandatangi surat pernyataan bahwa mereka akan taat pada peraturan di sekolah itu, termasuk mengikuti pelajaran Agama Katolik.

Hingga saat ini, semua siswa non-katolik masuk ke sekolah itu tidak mempermasalahkan hal tersebut karena yakin, anaknya akan mendapat pendidikan yang bermutu dan tidak akan ditarik (dibaca: dipaksa) masuk Katolk. Belum pernah terjadi murid dan orang tua non-katolik protes tentang pelajaran Agama Katolik di Sekolah Katolik. Justru yang protes dan mempermasalahkan adalah pihak luar dengan segala macam alasan.

Masalah yang dihadapi Sekolah Katolik datang dari dalam maupun dari luar. Masalah dari dalam yaitu semakin menurunnya jumlah murid, sampai banyak Sekolah Katolik yang ditutup. Masalah dari luar, dengan mengatasnamakan negara, yaitu tentang pelajaran non-katolik yyang tidak diajarkan di Sekolah Katoli yang dianggap melanggar HAM. Gereja harus memikirkan solusinya agar Sekolah Katolik tetap eksis.

Saya usulkan beberapa model pembelajaran agama di Sekolah katolik. Pertama, Sekolah Katolik adalah sekolah khusus, maka tetap hanya mengajarkan agama Katolik. Semua murid harus tunduk pada peraturan sekolah, dan wajib menandatangani surat pernyataan taat pada semua aturan, termasuk mengikuti pelajaran Agama Katolik.

Kedua, sekolah mengajarkan agama sesuai agama murid. Untuk itu, Yayasan atau sekolah harus menyediakan guru agama yang seagama dengan murid. Keuntungan model ini, Sekolah Katolik menjadi percontohan "Indonesia Mini", yang ber-Bhineka Tunggal Ika, saling menghormati. Konsekwensinya, ciri Sekolah katolik hilang. Ia tinggal menjadi Sekolah Swasta Umum.

Ketiga, setiap murid mendapatkan pelajaran semua agama yaitu: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu, oleh guru yang beragama seperti agama murid. Keuntungannya, murid mendapatkan perluasan wawasan tentang agama di luar agamanya. Diharapkan dengan cara ini, semangat toleransi, saling menghormati akan semakin berkembang.
Foto SMAS Katolik Bintang Laut Telukdalam
dilihat dari depan (Foto: Frans R. Zai)

Keempat, di Sekolah Katolik tidak diajarkan agama tetapi siritualitas atau Budi Pekerti. Pelajaran Agama dikembalikan kepada orangtua dan institusi Agama. Dengan sistem ini, diharapkan murid tidak terkotak-kotak. Kepada murid, diajarkan untuk selalu melakukan kebaikan. Mereka bukan hanya diajarkan untuk beragama, tetapi sungguh beriman.

Mari kita rembug bersama, apa yang perlu diakukan Sekolah-Sekolah Katolik agar dapat diterima keberadaannya oleh semua pihak? Diharapkan di setiap Sekolah Katolik terwujud percontohan "Indonesia Mini" yang penduduknya tentram, damai, rukun, bermartabat, saling menghormati, maju dan berkembang. (giuslay.zone, 22 Juli 2013)
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Copyright © 2009. SMA Bintang Laut Telukdalam - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger